Rugi, Bila Puasa Kita Hanya Menahan Lapar dan Haus

0
Wahid Noor Rahman

Telaah

oleh:Wahid Noor Rahman *

Sudah benarkah puasa kita? Merupakan suatu pertanyaan menarik untuk menjadi introspeksi diri dan kontemplasi setiap manusia yang mengaku hamba di depan Tuhannya. Agar tidak jumawa puasa kita sudah bernilai di depan Rabb Al Alamin. Secara, yang tahu kita puasa adalah kita dan Tuhan, yang mengatur pahalanya pun juga veto Tuhan.

Dalam literasi Arab, صوم adalah menahan diri dari lapar dan haus, serta dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari dengan syarat tertentu. Tujuannya, adalah untuk mencapai derajat takwa.

Puasa juga merupakan termasuk dari salah satu Rukun Islam yang lima, yang mana mengerjakannya merupakan sebuah kewajiban yang harus dijalankan oleh kaum muslimin, dengan syarat tertentu pula.

Namun, banyak yang memaknai puasa hanya dari soal menahan lapar dan hausnya sahaja. Banyak orang yang berpuasa tapi ternyata dia tidak sholat, masih sering marah-marah, dia sering meng-ghibah dan beberapa perbuatan tidak baik lainnya. Dia tetap berpuasa sebagaimana mestinya akan tetapi dia tidak mampu menjaga lisannya, menjaga pandangannya dan menjaga pendengarannya. Sejatinya puasa atau tidak?…

Banyak orang yang berpuasa tetapi tetap menjalankan maksiat yang membuat berkurangnya pahala dan pula menjadi indikator batalnya puasa seseorang tersebut.

Salah satu Hadits Nabi Saw menjelaskan:
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan dari puasanya tersebut kecuali rasa lapar dan dahaga.” (HR Ath Thobroniy)

Di luar bulan Ramadhan yang biasanya kita sering marah-marah, maka di bulan Ramadhan ini mari kita belajar mengontrol emosi. Kita yang biasanya sering meng-ghibah, mari mengisi dengan berbagai kegiatan spiritual seperi tadarrusan, hadir ke majlis ilmu.

Kita yang biasanya sering boros dan berlebihan maka momentum Ramadhan ini kita jadikan ajang saling berbagi ke sesama, baik ke masjid-masjid untuk buka puasa bersama, ke fakir miskin, dhuafa, dan anak-yatim, malam harinya yang biasanya sering begadang tak karuan maka di bulan Ramadhan ini kita isi dengan shalat tarawih dan witir serta banyak hal lainnya yang bisa menambah nilai puasa kita lebih dari sekedar menahan lapar dan haus saja.

Ramadhan adalah bulan yang banyak sekali terdapat kemuliaan di dalamnya. Hal sekecil apapun apabila diniatkan ibadah dan dengan mengharap keridhaan Allah, maka balasan berlipat-lipat ganda diberikan Allah di Bulan Puasa ini.

Sudah sepatutnya bulan penuh berkah kita jadikan ajang training diri baik dalam hablum-minallah dan hablum-minnannas. Puasa Ramadhan sebagai ajang representatif kita untuk meningkatkan kualitas diri hingga sampai pada hari kemenangan yang disebut Idul fitri. Kemenangan yang sesungguhnya yang didapatkan dengen banyak perjalanan spiritual di dalamnya. Semoga kita termasuk orang yang mendapatkan keberkahan di Bulan mulia ini. Aamiin

 

* Ketua Ikatan Mahasiswa Palangka Raya (IKMAPA) Tangerang Selatan