Malam Ini Nobar ‘Sang Kiai’ di Gedung PWNU

0
Nobar 'Sang Kiai' dilangsungkan malam ini di Kantor PWNU Kalteng

Danum.id, Palangka Raya –  Malam ini, bakal dilangsungkan nonton bareng (Nobar) film berjudul ‘Sang Kiai’ yang merupakan film karya anak bangsa Indonesia, tontonan wajib para santri, dan masyarakat Indonesia umumnya.

Bertempat di halaman gedung Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Tengah (Kalteng) jalan G Obos Palangka Raya, pemutaran film ini diinisiasi Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kalteng, GP Ansor Kota Palangka Raya, PKC PMII Kalteng dan PC PMII Palangka Raya.

Film yang diproduksi oleh RAPI FILMS pada 2013 silam ini bercerita kepahlawanan sosok pendiri “Nahdlatul Ulama” asal Kabupaten Jombang, Jawa Timur yaitu KH. Hasyim Asy’ari, satu-satunya Hadratussyaikh di kalangan ulama Indonesia.

KH. Hasyim Asy’ari merupakan ulama’ yang berperan penting dalam kemerdekaan Indonesia dari penjajahan. Beliau pendiri NU dan pendiri pesantren tebuireng, yang mana pesantren itulah cikal bakal terbentuknya Laskar Hisbullah atau barisan santri pembela negara.

“Nobar Film Sang Kiai merupakan rangkaian dari kegiatan Kirab Satu Negeri (KSN) 2018 jalur Kalteng. Sesuai jadwal, akan dilangsungkan pukul 20.00 WIB nanti,”ungkap Ketua Pengurus Wilayah GP Ansor Kalteng, Elly Saputra, Minggu (30/9/2018).

Sejak siang hingga sore ini, pantauan Danum.id, kader-kader NU di Kota Palangka Raya sudah mempersiapkan arena Nobar di halaman kantor PWNU, yang bakal meriah karena dihadiri ratusan warga NU.

“Saya harap kader NU, senior-senior dan sesepuh NU bisa hadir dalam kegiatan ini, juga undangan lainnya untuk bersama-sama mengambil hikmah dari Sang Kyai,” ajak Ketua PC GP Ansor Palangka Raya, Nor Slamet.

Kru Nobar film Sang Kia ‘ saat melakukan persiapan di halaman kantor PWNU jalan G Obos Palangka Raya

Film yang disutradarai oleh Rako Prijanto ini, didedikasikan agar lebih mengenal sosok KH. Hasyim Asy’ari, begitupun dengan jerih payah para ulama dan perjuangan rakyat Islam bagi kemerdekaan Indonesia.

Sinopsis Film

Awal dari film ini adalah menampilkan suasana lingkungan khas Pesantren Tebuireng Jombang. Pesantren yang dipimpin KH. Hasyim Asyari ini terlihat dalam kondisi yang begitu tenang dan khusyuk.

Banyak orang yang berasal dari Pulau Jawa dan Madura datang ke Tebuireng dan mendaftarkan anaknya untuk belajar ilmu pengetahuan Islam. Para orang tua santri mendaftarkan dengan cara memberikan hasil bumi yang dimilikinya ke Pesantren.

Dalam film ini, tokoh KH. Hasyim Asy’ari dan istrinya Nyai Kepu sebagai tokoh sentral diperankan oleh Ikranagara dan Christine Hakim. Sedangkan KH. Wahid Hasyim (anak Sang Kiai sekaligus ayah dari Gus Dur) diperankan oleh Agus Kuncoro.

Adapun tokoh Harun (santri kesayangan Kiai), Hamzah (penerjemah tentara jepang), dan Sari (istri Harun) diperankan oleh para aktor muda seperti Adipati Dolken, Dimas Aditya, dan Meriza Febriani.

Untuk tokoh seperti Bung Tomo dan Gus Dur kecil diperankan oleh Ahmad Fathoni dan Ahmad Zidan. Sedangkan Kumakichi Harada (Jepang) dan Brigadir Mallaby (Inggris) diperankan oleh aktris bule agar terlihat sesuai dengan keadaan masa itu, mereka adalah Suzuki Noburo dan Andrew Trigg.

Meski film Sang Kiai mengisahkan tentang perang kemerdekaan dan peran KH Hasyim Asy’ari, film ini bukanlah jenis film dokumenter yang terlihat sangat serius. Ada unsur komedi, yaitu ketika adegan salah satu santri yang tidak melaksanakan sholat dzuhur berjamaah, kemudian dihukum oleh Sang Kiai dengan hukuman mencium pantat sapi. Adapun unsur kasih sayang atau percintaan, yang dituangkan pada kisah Harun dengan Sari, juga antara Sang Kiai dengan istrinya, Nyai Kepu.

Film ini ditutup dengan wafatnya Hadratussyaikh. Padahal, saat itu para pejuang Islam masih membutuhkan banyak nasehat dari beliau untuk tetap mempertahankan negara Indonesia ini dalam bingkai ke-Islam-an.

Pada saat itu pula terjadi Agresi Belanda I pada 21 Juli 1947. Jombang diserang oleh Belanda, bahkan Tebuireng dibakar karena dituduh sebagai sarang pemberontak Muslim. Begitulah film “SANG KIAI”, film yang diharapkan mampu memberi dan membangkitkan kembali semangat membela Islam dan Tanah air Indonesia.

Ada banyak pelajaran atau hikmah yang bisa dipetik, seperti kisah cinta antara Harun dan Sari yang kemudian dinikahkan dengan cara yang sangat islami, yaitu dipisahkan diruangan yang berbeda. Bahkan sebelum menikah pun mereka hanya sekilas saling pandang dan berbicara secara jauh. Berbeda dengan sekarang yang selalu pacaran dulu dan “nempel” terus padahal belum menikah.

“Adapun jika memahami kisah KH. Hasyim Asy’ari lebih dalam lagi, beliau adalah sosok pendidik yang hebat. Seorang pendiri NU sekaligus pemimpin pesantren, yang dari kedua itu lahirlah para tokoh pendidikan, ulama dan cendekiawan hebat,”

“Selain itu, pemimpin yang ‘berbeda’ pada zamannya, memiliki teknik dakwah dan strategi perjuangan,  lompatan pemikiran yang jauh ke depan melampaui pemikiran orang pada masanya, yang kemudian diwarisi anaknya (KH Wachid Hasyim) dan cucunya, KH Abdurrahman Wahid,” simpul Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan SDM (Lakpesdam) NU Kalteng, M Roziqin, mengapresiasi pemutaran film ini. (red)